BOOK STORY//2
PERJALANAN SALMAN AL-FARISI MENCARI KEBENARAN
Belum lama ini saya
membaca sebuah kisah dari salah satu sahabat Rasulullah SAW yang berasal dari
Persia. Seorang laki-laki yang gagah berani yang terlahir dari agama Majusi.
Persia dikenal sebagai bangsa yang identik dengan keglamoran hidup, secara
tidak langsung hal tersebut menggambarkan bahwa sebagian besar orang-orang
Persia adalah orang-orang kaya yang hidupnya serba berkecukupan.
Salman Al-Farisi terlahir
dari keluarga yang kaya, ayahnya merupakan penguasa di sebuah desa yang bernama
Jey (Jayyan) tepatnya di daerah Ashbahan. Tidak ada alasan baginya, untuk hidup
dalam ksederhanaan maupun kesulitan. Tetapi Allah menghendaki untuk Salman
hidup dalam keadaan Zuhud. Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki cerdas.
Atas ide cemerlangnya kaum Muslimin mampu mengalahkan kaum Musyrikin pada saat
perang Khandaq tahun 5 H. Siasat yang
dibuat sedemikian licik oleh kaum Musyrikin yang terdiri dari pasukan Quraisy
dan Bani Ghafthan, untuk mengepung kaum Muslimin dari segala arah di dalam
maupun luar kota Madinah, membuat kaum Muslimin panik karena hal yang tidak
disangka sebelumnya. Dengan gagah berani, Salman naik ke atas bukit dan ia
hamparkan pandangan penuh selidik ke sekitar kota Madinah. Ia mendapati sebuah
celah luas yang memanjang dan membentang yang kemudian dibuatlah sebuah parit (khandaq).
Saya tidak akan
menceritakan lebih lanjut mengenai terjadinya perang khandaq. Ada hal lain dari
kisah Salman yang sangat menarik bagi saya, yaitu tentang perjalanannya mencari
kebenaran. Sebelum Salman memeluk Islam, ia adalah seorang Majusi. Salman
sangat taat terhadap agamanya, sehingga ia diberi tugas sebagai penjaga api
yang menjaganya agar tidak padam. Bagi seorang Majusi tugas penjaga api seperti
Salman adalah tugas yang sangat mulia. Namun suatu hari, Salman diperintahkan
untuk pergi ke ladang milik ayahnya. Di tengah perjalanannya menuju ladang, ia
melihat sebuah gereja yang didalamnya sedang dilakukan kegiatan peribadatan
kaum Nasrani. Tanpa berpikir lebih lama, Salman memasuki gereja tersebut dan
menyaksikan bagaimana mereka beribadah secara langsung. Salman merasa kagum
dengan cara kaum Nasrani beribadah dan memutuskan untuk memeluk agama mereka.
Suatu hari, Salman
melakukan perjalanan ke negeri Syam bersama rombongan kaum Nasrani yang lainnya.
Ia bertujuan untuk menemui pendeta atau uskup di negeri tersebut. Setelah ia
bertemu dengan pendeta, Salman diizinkan untuk tinggal dan belajar agama
barunya bersama sang pendeta. Tak lama kemudian pendeta tersebut meninggal
dunia dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh pendeta baru yang membuat Salman
semakin yakin dengan agama baru yang dianutnya. Ketika pendeta itu hendak
wafat, Salman disarankan untuk pergi ke Maushil. Ia tinggal dengan pendeta yang
disarankan oleh pendeta sebelumnya. Salman tinggal di Maushil bersama pendeta
tersebut selama waktu yang dikehendaki Allah. Ketika sang pendeta hendak wafat,
Salman diperintahkan agar pergi ke Romawi dan tinggal bersama seorang laki-laki
yang taat agama Nasrani. Ia tinggal bersama laki-laki tersebut selama waktu
yang dikehendaki Allah SWT. Sama seperti yang dilakukan Salman sebelumnya, ia
harus berpindah-pindah tempat tinggal ketika orang yang tinggal bersamanya
wafat. Sebelum laki-laki berkebangsaan Romawi tersebut wafat, ia memerintahkan
Salman untuk pergi ke suatu daerah yang banyak ditumbuhi kurma dan terletak
diantara harratain (nama sebuah tempat di Madinah). Laki-laki
yang dimaksud adalah Rasulullah SAW yang memiliki cap kenabian di antara kedua
pundaknya.
Dari sinilah, kisah
keislaman Salman Al-Farisi dimulai. Pertemuannya dengan sang Nabi tidaklah
mudah. Salman pernah menjadi budak dari seorang Yahudi dari Bani Quraizhah, ia
bekerja di perkebunan kurma milik tuannya. Sampai suatu hari, Salman mendengar
tentang keberadaan Nabi Muhammad SAW di Quba. Setelah Salman menemuinya, ia
mendapati Rasulullah SAW sedang berkumpul bersama para sahabatnya. Tanpa berpikir
panjang, Salman memberikan persediaan makanannya kepada Rasulullah SAW dan para
sahabat yang telah diniatkan sebelumnya untuk sedekah. Tetapi Rasulullah SAW
tidak memakannya. Pada keesokan harinya, Salman kembali menemui Rasulullah SAW sembari
membawa makanan sebagai hadiah untuk beliau. Dan kemudian Rasulullah SAW
memakannya. Demi Allah, tanda pertama yang dimaksud oleh pendeta Romawi
sebelumnya telah terlihat. “Seorang
laki-laki yang tidak mau makan sedekah, tetapi mau menerima hadiah”.
Tak lama setelah hari
itu, Salman kembali menemui Rasulullah SAW dan mendapati beliau di Baqi’ sedang
mengiring jenazah. Ia melihat tanda cap kenabian di antara kedua pundaknya.
Semakin yakinlah Salman bahwa laki-laki tersebut adalah sang Nabi yang dimaksud
oleh pendeta Romawi. Setelah
berkali-kali pertemuannya dengan Nabi Muhammad SAW, ia semakin mantap untuk
memeluk Islam. Rasulullah SAW membebaskan Salman dari statusnya sebagai budak
dengan membayar uang tebusan kepada majikan Salman sebelumnya.
Begitulah kiranya awal
kisah perjalanan Salman Al-Farisi memeluk Islam. Penuh dengan pengorbanan demi
mencari kebenaran di sisi Allah SWT. Penuh dengan ujian dalam waktu yang tidak
sebentar. Ia rela meninggalkan semua kenikmatan dan kekayaan dunia yang
dimilikinya demi mencari dan menemukan kebenaran untuk akal dan rohaninya.
Salman Al-Farisi hidup dalam keadaan yang penuh zuhud. Semoga kiranya dari kisah
Salman, kita dapat memetik hikmah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Rabu, 24 Februari 2021
Komentar
Posting Komentar